Jelang Pilkada, Mayoritas Anak Muda Tak Kenal dengan Calon Kepala Wilayah

0
679

Suara. com kepala Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang tetap diselenggarakan pada tengah pandemi akan digelar pendek lagi.

Untuk tersebut, koalisi organisasi masyarakat sipil melayani survei terhadap anak-anak muda dengan berpatisipasi sebagai pemilih dalam Pilkada Serentak 2020.

Hasilnya, mayoritas anak muda mendapati adanya Pilkada di daerahnya tetapi mereka tidak mengetahui dan tak yakin mengenai calon-calon kepala daerahnya.

Survei dari bertajuk Harapan dan Persepsi Anak Muda dan Pilkada tersebut melibatkan 9. 087 responden.

Baca Juga: Menetapkan Pilkada, Mendagri Minta Dukcapil Kawasan Proaktif Layani Rekam e-KTP

Minimnya pengetahuan mereka mau latar belakang calon kepala daerah dianggap mengkhawatirkan karena menjadi petunjuk adanya ketidakpedulian anak muda.

“Hal ini merupakan tanda bahaya, karena dapat diartikan, budak muda masih kurang peduli secara calon pemimpin di daerah itu, ” kata Komisaris Warga Muda, Wildanshah dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/11/2020).

Namun, Wildanshah juga mengungkapkan bisa jadi ciri lainnya ialah karena adanya bahan pemimpin daerah belum mampu menyosialisasikan dan berinteraksi soal visi serta misinya.

“Atau yang terjadi sebaliknya, calon kepala daerah memang masih begitu bertelingkah dengan pemuda-pemudi di daerahnya tunggal. Ini bisa jadi akibat kurangnya interaksi, sosialisasi, kontribusi, dan kolaborasi antara pemimpin daerah bersama komunitas-komunitas anak muda di daerahnya, ” ujarnya.

Padahal lantaran data Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada pemilih muda pada leler 17-30 tahun jumlahnya sekitar 60 juta orang atau sekitar 31 persen dari total pemilih. Bilangan jumlah pemilih usia muda tersebut menjadikan anak muda sebagai ikatan pemilih yang berpotensi menentukan atasan dan arah pembangunan daerah ke depannya.

Baca Juga: Diwarnai Insiden Pecah Ban, KPU Terima 1 Juta Surat Perkataan Pilkada Tangsel

Lebih lanjut, menurut anak muda dengan terlibat dalam survei tersebut menganggap ada persoalan terbesar di kawasan mereka masing-masing. Persoalan terbesar ialah ekonomi dan kesejahteraan sebanyak 42 persen yang mencakup kurangnya lapangan pekerjaan, tingginya tingkat pengangguran & bantuan sosial yang tidak pas sasaran.